Menu

25 July 2016

Anak Tuna Rungu Belum Tentu Bisu

anak tuna rungu belum tentu bisu
Tuna rungu merupakan sebuah momok yang menakutkan bagi anak anda karena akan mengalami nasib yang menyedihkan padahal mereka yang tuna rungu menyimpan sebuah potensi yang luar biasa. Tuna rungu bukanlah sebuah hambatan untuk bisa bicara selayak anak normal.

Anak yang mengalami gangguan pendengaran atau tuli belum tentu bisu. Demikian disampaikan Apsari Dionita, orangtua dari Aflah Menur Nadila (7) yang menderita tuna rungu dan kini sudah bisa berbicara. "Banyak orang beranggapan anak yang tuli sudah pasti bisu. Semua itu tidak benar. Belum tentu anak tuli itu bisu," kata Apsari di Kota Bogor, Jawa Barat.

Apsari menyampaikan pengalamannya itu guna saling berbagi dan memberi dukungan kepada para orangtua yang memiliki anak tuna rungu. Banyak orangtua yang belum memahami anak dengan gangguan pendengaran (tuna rungu) sehingga menganggap anak tuna rungu aib dan dikucilkan. Padahal, anak dengan gangguan pendengaran memiliki kelebihan yang luar biasa. Selain aktif dan memiliki ketajaman indra penglihatan, anak tersebut belum tentu bisu atau masih punya kemampuan untuk berbicara.

Terbatasnya kemampuan berbicara anak tuna rungu berbicara, menurut dia, karena sejak lahir tidak bisa mendengar. Hal ini yang membuat anak-anak tersebut sulit berbicara karena tidak ada saraf pendengaran. "Dengan bantuan alat bantu dengar dan latihan terapi wicara bagi anak tuna rungu secara rutin dan berkelanjutan dapat membantu anak-anak tuna rungu berbicara layaknya orang normal," kata Apsari, seperti ditulis Antara.

Apsari mengatakan, pengalaman menjadi orangtua dengan anak tuna rungu telah dilaluinya dengan penuh suka cita. Selama tiga tahun ia mendidik dan membesarkan Menur secara berkesinambungan hingga pada usia delapan tahun sudah bisa berbicara, seperti anak-anak lainnya. "Alhamdulillah, anak saya sekarang sudah bisa berbicara. Dia pun bisa bersekolah di sekolah umum seperti anak-anak lainnya," kata Apsari.

Terbatasnya kemampuan pendengaran putrinya membuat ia khawatir akan masa depan sang anak, apakah mampu bersosialisasi dan menghadapi hidup layaknya orang-orang normal lainnya. Kekhawatiran ini dirasakan setiap orangtua yang memiliki anak tuna rungu. Tak ayal, banyak orangtua yang tidak tahu cara menangani anak tuna rungu.

Well, setidaknya ini sebuah pencerahan bagi anak-anak penderita tuna rungu untuk tidak perlu khawatir akan nasibnya. Setidaknya mereka yang masih bisa mendengar dengan bantuan alat bantu dengar bisa kembali beraktivitas seperti lainnnya.

Salam

Sumber 

01 February 2016

Kisah Sinta Dewi Ranti, Seorang Tuna Rungu Yang Sukses Dari Usaha Batik

Sinta Dewi Ranti membatik pada selembar kain
Bagi Sinta Dewi Ranti (24), menggambar dan membatik menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan. Dengan melukis, dia dapat mengungkapkan seluruh perasaannya ditengah kondisinya yang menyandang tuna rungu dan wicara. 

Kondisi itu tidak membuat Sinta patah arang. Sinta justru mampu menunjukkan karya-karya batiknya yang mempunyai nilai seni dan nilai jual yang tinggi. Bahkan perempuan berparas ayu itu sudah menjadikan batik sumber mata pencahariannya. 

Saat ditemui di kediamannya di Dusun Sawahan, Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang, Jumat (22/1/2016), Sinta sedang asyik membatik kain pesanan salah seorang pelanggannya. Di sudut ruangan, terdapat beberapa peralatan membatik seperti canting dan kain-kain batik yang sudah jadi dan setengah jadi. 

"Dari kecil Sinta memang suka menggambar. Dia mulai membatik sendiri saat keluar dari pekerjaannya di perusahaan batik di pada pertengahan 2014 lalu," kata sang Ibu, Dwi Suswanti (51). 

Dwi menceritakan, anak sulung empat bersaudara itu adalah lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, 2011 silam. Selepas dari SLB, dia mulai membatik sendiri. 

"Saat itu sudah membatik di kain, lalu suka bikin suvenir batik, gantungan kunci dan lainnya. Tapi waktu itu belum dijual," kisah Dwi. 

Suatu ketika, Sinta bekerja ikut pengusaha batik di Kota Magelang, namun penghasilan yang diterima Sinta tidak mencukupi untuk kebutuhannya sehari-hari. 

Bahkan karya batiknya sering dihargai mahal oleh konsumen, tetapi uang yang diterimanya kecil. Sinta pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

“Sinta sangat kecewa, apalagi setelah tahu kalau hasil batik karyanya dijual dengan harga sangat mahal sampai jutaan rupiah per potong, tapi Sinta hanya dibayar sekedarnya bahkan pernah tidak dibayar," ungkap Dwi. 

Tekun

Dwi mengatakan, Sinta kemudian menjajal membatik sendiri di rumah dengan modal yang sangat kecil. Karena Sinta tekun, dia tidak menyerah ketika batik karyanya rusak atau tidak laku. 

Sampai akhirnya, hasil karya perempuan kelahiran 27 Januari 1992 itu disukai konsumen meski sampai saat ini, batik karyanya masih sebatas dititipkan kepada para pengusaha batik karena di rumah belum dikenal orang. 

Batik buatan Sinta cukup khas dengan variasi motif truntum jagat, sulur-sulur, ketela, kupu-kupu, cempaka, sampai bunga crubung. Mayoritas bermotif alam. 

“Harganya bervariatif, mulai dari ratusan ribu hingga satu jutaan rupiah, tergantung dari motif, jenis bahan, dan lamanya pengerjaan,“ ujar istri dari Suranto itu. 

Ayah Sinta, Suranto, menambahkan, meski sudah memiliki konsumen namun Sinta masih terkendala modal. Sebab banyak konsumen yang memesan tapi akhirnya tertunda karena tidak bisa membeli bahan-bahan membatik.

"Kalau mau buat batik baru, dia menunggu batik lainnya laku," kata Suranto.

Sumber : kompas.com

25 May 2015

Unik! Boneka Ini Memakai Alat Bantu Dengar dan Punya Tanda Lahir

Foto : detik.com/makies
Kondisi tubuh yang kurang sempurna kerap membuat penyandang disabilitas mendapat diskriminasi hingga mereka minder. Untuk membantu agar anak-anak juga orang dewasa tidak merasa minder dengan kondisi mereka, produsen boneka yang berbasis di London pun menciptakan sebuah boneka tak biasa.

Melalui kampanye #ToyLikeMe di jejaring sosial, produsen boneka bernama Makies meluncurkan boneka-boneka tak biasa. Sebab, boneka itu menunjukkan seorang anak perempuan yang di wajahnya terdapat tanda lahir berwarna merah, menggunakan tongkat, juga ada boneka yang menggunakan alat bantu dengar.

"Kami sangat senang bisa menghasilkan boneka ini. Kami harap boneka ini bisa memberi semangat baru bagi para penyandang disabilitas," tulis pihak perusahaan dalam laman facebooknya dan dikutip pada Rabu (20/5/2015).

Sejak dibentuk tahun 2011, Makies memberi kesempatan bagi konsumen untuk mendesain sendiri boneka yang diinginkan. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan jika para orang tua ingin membuatkan boneka yang sesuai dengan kondisi anaknya yang 'tidak biasa'.

Dikutip dari Metro, Makies juga menyediakan boneka yang memakai kursi roda. Peluncuran boneka dengan disabilitas ini mendapat tanggapan baik dari para konsumen, salah satunya Vilissa K Thompson yang merupakan penulis dengan disablitias di mana ia harus menggunakan kursi roda dalam kesehariannya.

Sementara, jika ada permintaan untuk membuat boneka dengan implan koklea seperti yang diminta pengguna akun Facebook bernama Christie Baratela, pihak produsen berusaha untuk membuat boneka tersebut. Tujuannya, tak lain agar penyandang disabilitas bisa lebih percaya diri dan diharapkan tidak lagi mendapat diskriminasi dari masyarakat sekitar.

Well, menurut saya, ini adalah sebuah cara unik dan kreatif dalam merangsang anak-anak yang berkebutuhan khusus agar tidak lagi minder menghadapi lingkungan banyak orang. Saya merasa tersanjung pada orang yang mengerti pada anak berkebutuhan khusus.

Bagaimana dengan anda?

Sumber : detik.com

12 March 2015

Amy Purdy, Sang Difabel Cantik Dipercaya Jadi Pengemudi Mobil Balap Toyota


Tidak selamanya penyandang disabilitas dipandang negatif karena kekurangannya Meski harus dibantu kaki palsu, wanita ini justru bisa berprestasi. Malah bisa mengemudikan sebuah mobil balap!

Toyota memilih atlet paralympic Amerika Amy Purdy untuk mengemudikan mobil Toyota Camry. Camry itu akan menjadi mobil pemandu balapan di Daytona 500 pekan ini.

Finalis ‘Dancing With the Stars’ dan peraih medali perunggu Paralimpiade ini ditunjuk sebagai pengemudi mobil balap resmi Toyota untuk ajang Daytona 500 2015 yang dimulai 22 Februari mendatang.

Toyota Motor Sales (TMS) Amerika Serikat dan Daytona International Speedway mempercayai jasa Purdy untuk menunggangi Toyota Camry terbaru yang telah didesain ulang untuk tahun 2015.

"Ini menjadi hal yang menarik dalam hubungan saya dengan Toyota. Sebagai penggemar balap, saya senang bisa diundang untuk menjadi pengemudi kehormatan Pace Car di balapan terbesar dari musim NASCAR, Daytona 500," kata Purdy seperti dikutip dari laman resmi Toyota, Jumat (20/2/2015).

"Ini adalah kesempatan lain untuk mencoba sesuatu yang baru dan berani dalam hidup saya sendiri. Saya tidak sabar untuk mengunjungi atlet Toyota lainnya dan bergabung ke dunia mereka dengan mengemudi Camry," tambahnya.

Berbagai prestasi sudah ditoreh Purdy selama hidupnya. Purdy kehilangan kedua kakinya kpada usia 19 tahun akibat meningitis.

Meski dengan segala keterbatasannya itu wanita asal Las Vegas ini sudah tiga kali menjadi juara Piala Dunia Para-Snowboard. Selain itu, ia telah mendirikan organisasi nirlaba Adaptive Action Sports dan muncul sebagai finalis 'Dancing with the Stars' pada 2014. Terakhir, Purdy terlihat di iklan televisi Toyota selama Super Bowl 2015.

"Amy adalah seorang atlet yang luar biasa dan dia adalah duta yang luar biasa untuk Toyota. Sangat menyenangkan bahwa dia akan bergabung dengan kami di Daytona dan menjadi sopis pace car resmi untuk The Great American Race. Amy adalah seorang penuh kerja keras, tekad dan mengatasi rintangan yang luar biasa sehingga masuk akal untuk memberukan kesempatan mengikuti Daytona 500 dengan menggunakan Toyota Camry," ujar Wakil Presiden Marketing dan Performa Toyota Motor Sales Amerika Serikat.

Sementara itu, sebelum Daytona 500 mulai digelar pada 22 Februari, pace car resmi Toyota Camry akan dipajang di area Toyota Pit Pass.



Sumber : Kompas

09 March 2015

Mengenali Faktor Perusak Indera Pendengaran

Sebuah penelitian terbaru menyebutkan sekitar 1 dari 5 orang Amerika berusia di atas 12 tahun menderita gangguan pendengaran. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak menyadari kemampuan indera pendengaran mereka menurun.
"Gangguan pendengaran terjadi secara bertahap selama sehingga orang yang mengalaminya menjadi terbiasa dan merasa tidak ada yang salah karena prosesnya sangat lambat," kata Dr.Frank R.Lin, yang melakukan penelitian ini.