06 November 2017

Mengenal Teknologi Alat Bantu Dengar Yang Dapat Diisi Ulang Daya

Image : hearingtracker.com
Pada artikel sebelumnya yang membahas mengenai kelebihan dan kekurangan pada teknologi tiap jenis alat bantu dengar (abd). Alat bantu dengar teknologi sebelumnya mengunakan baterai kancing biasa yang berukuran kecil, saking kecilnya selayaknya seperti menggunakan baterai jam tangan.
Kini saatnya beralih ke teknologi yang lebih canggih lagi dimana teknologi yang dapat mengeliminasi kekurangan-kekurangan sebelumnya menjadi lebih baik lagi. Teknologi zaman kekinian makin memudahkan pengguna abd dalam beraktivitas juga sesuatu yang diinginkan oleh pengguna.
Teknologi yang dibahas kali ini yaitu penggunaan baterai yang dapat diisi ulang selayaknya smartphone. Teknologi ini menggunakan baterai berjenis Lithium Ion berteknologi Nickel Metal Hybride (NiMH).
Well, sebelum membahas mengenai teknologi tersebut, ada baiknya kita bahas pengembangan teknologi sebelumnya guna mengetahui perkembangan yang terjadi pada alat bantu dengar saat beralih dari baterai sekali pakai.

Baterai sekali pakai (disposal battery)
Sebelum adanya teknologi baterai Lithium Ion atau Polymer Ion, dalam sehari-hari kita menggunakan baterai berbahan Nickel Cadmium non Mercury seperti A******e atau E*******r bahkan A** yang banyak kita pakai, baik untuk remote, jam, atau mainan.  dengan harga yang lumayan terjangkau. Baterai macam ini bisa disebut sebagai baterai sekali pakai karena setelah digunakan akan langsung dibuang, tidak bisa digunakan untuk diisi ulang.
Seperti yang kita ketahui bahwa penggunaan baterai sekali pakai dalam alat bantu dengar tersebut memiliki kekurangan yang kita hadapi dalam sehari-hari. Kekurangannya yaitu sebagai berikut:
  • Memiliki ragam ukuran tiap jenis alat bantu dengar dan tidak bisa disetarakan.
  • Jumlah daya sangat terbatas dimana pemakaian baterai bisa lebih dari sekali dalam sehari tergantung pada pemakaian. Semakin intens pemakaian, semakin cepat habis baterai.
  • Baterai cukup mahal untuk mendapatkannya sebagai stok dalam sebulan.
  • Tidak ramah lingkungan, tiap hari buang baterai yang habis.
  • Harus melakukan pergantian baterai secara periodik alias ganti tiap hari.
  • Barang yang mudah dilupakan. Hal ini terjadi bila kita buru-buru beraktivitas dan lupa bawa baterai cadangan. Akibatnya harus mengalami kesulitan mendengar percakapan gara-gara lupa baterai cadangan tersebut.
  • Tipikal pengguna alat bantu dengar adalah menghabiskan dana sebanyak + 2 juta rupiah per tahun untuk pembelian baterai tergantung pada pemakian tersebut.
Well, masih banyak lagi kekurangan yang tidak saya sebutkan. Cukuplah untuk mewakili kekurangan tersebut.

Memecahkan Masalah Sumber Daya Sepanjang Hari
Tahun 2017 adalah tahun pengembangan inovasi teknologi terbaru terutama pada alat bantu dengar. Inovasi produk terbaru telah mengubah pandangan seseorang tersebut. Sekarang, alat bantu pendengaran yang dapat diisi ulang (Rechargeable Hearing Aid). Siapa yang tidak ingin memiliki teknologi ini?
Teknologi yang banyak digunakan pada smartphone ini diterapkan pada alat bantu dengar dengan inovasi terbaru yang memudahkan untuk melakukan pengisian daya secara penuh melalui alat pengisi. Pengisian ini bahkan kompatibel dan dapat digunakan untuk alat bantu dengar lain yang berbahan seng (zinc).
Berikut keuntungan dari teknologi ini adalah sebagai berikut:
  1. Penggunaan sehari penuh
    Produk baru menyediakan sekitar 24 jam waktu penggunaan.
  2. Faktor bentuk yang mudah dikenal
    Mereka menyediakan sumber daya sepanjang hari dalam bentuk alat bantu dengar yang sama.
  3. Mengurangi repot
    Banyak pengguna mengeluh karena harus terus mengganti baterai sekali pakai kecil di alat bantu dengar mereka. Dengan teknologi terkini baterai isi ulang tidak perlu diganti dan hanya memasukkan alat bantu dengar ke unit pengisian ulang daya yang mudah digunakan di malam hari.
Model alat bantu dengar baru yang dapat diisi ulang berasal dari dua dari "Big Six" produsen alat bantu dengar premium. Alat bantu dengar Audéo B-R Phonak's Audy dan alat bantu dengar Sivantos Signia Cellion Primax. Kedua alat bantu dengar tersebut dilaporkan dapat dijalankan penuh selama 24 jam dengan pengisian penuh. Masing-masing mengintegrasikan baterai isi ulang lithium-ion ke dalam bagian tertutup alat bantu dengar, dan keduanya dilengkapi dengan alat pengisian sederhana.

Teknologi Lithium-ion
Solusi Phonak dan Signia didasarkan pada jenis teknologi lithium-ion yang sama yang ditemukan di ponsel Anda. Baterai lithium-ion memberikan kekuatan lebih besar daripada solusi yang dapat diisi ulang sebelumnya untuk alat bantu dengar yang berbasis teknologi Nickel Metal Hydride (NiMH). Solusi NiMH mengalami masa pakai baterai lebih pendek dan daya keluaran kurang stabil.

Phonak Audéo B-R
Audéo B-R disebut-sebut sebagai "alat pendengar isi ulang lithium-ion arus utama yang pertama." Phonak mengklaim bahwa Audéo B-R yang baru akan bertahan 24 jam dengan muatan penuh, termasuk streaming nirkabel selama 80 menit. Produk baru ini dibangun di atas "Belong," platform pengolahan terbaru dari Phonak. Phonak mini charger ditampilkan.





Signia Cellion Primax
Primax Cellion disebut sebagai "satu-satunya alat bantu dengar induktif, nirkabel dan bebas biaya di dunia." Rupanya berada di atas satu tingkatan Phonak pada waktu operasi, Cellion primax mengklaim dapat berjalan selama "setidaknya 24 jam dengan streaming tak terbatas." Baik Audeo BR dan the Cellion primax yang memiliki bagian tertutup baterai.





Baterai lithium-ion adalah solusi yang sudah terbukti dan familiar, dan kelas terbaru alat bantu dengar yang dapat diisi ulang lithium-ion mudah diisi ulang dan bertahan selama sehari penuh. Dengan perbaikan penyempurnaan ini, ada beberapa keterbatasan potensial, termasuk:
  1. Keamanan
    Lithium-ion adalah racun, dan alat bantu dengar cukup kecil dan mudah untuk ditelan, menimbulkan bahaya pada anak-anak dan hewan peliharaan. Dan Anda pernah mendengar tentang ponsel Samsung yang baterainya terbakar? Mereka didasarkan pada baterai teknologi lithium-ion.
  2. Kotak Tertutup
    Bahaya kebakaran menentukan bahwa baterai lithium-ion diintegrasikan ke dalam kotak tertutup. Jika kehabisan daya saat masih digunakan, alat bantu dengar tidak bisa berjalan dengan baterai biasa, tapi harus dikeluarkan dari kotak saat mengisi ulang. Dan ketika baterai lithium-ion mencapai akhir hayatnya, baterai tersebut tidak dapat diganti oleh pengguna namun harus ditukar oleh audiologist (atau penyedia layanan lainnya).
  3. Keterbatasan Daya
    Jika Anda mengalirkan banyak audio (dari pemutar MP3 ponsel, dsb.), Kemungkinan baterai tidak boleh berlangsung 24 jam penuh. Ini seharusnya tidak mempengaruhi kebanyakan orang, karena 12-16 jam akan menjadi hari yang khas untuk penggunaan alat bantu dengar.
Namun, Phonak dan Sivantos (sebelumnya Siemens Hearing Instruments) mencatat bahwa kasus mereka yang disegel dan dikonstruksi yang kokoh menyelesaikan masalah keamanan. Kedua produsen telah menyediakan alat pendengar berkualitas selama beberapa dekade dan keduanya memiliki catatan yang sangat baik untuk keselamatan dan kinerja.

Teknologi Silver-Zinc
Baterai isi ulang ZPower didasarkan pada teknologi silver-zinc, yang pada awalnya dikembangkan oleh NASA dalam misi bulan Apollo-nya. ZPower menawarkan kompartemen baterai retrofit semua model alat bantu dengar populer, yang memungkinkan pengguna untuk tetap menggunakan produk yang sudah mereka miliki dan mereka kenal. Seperti baterai lithium-ion, mereka menyediakan sumber daya untuk penggunaan sehari-hari.
Kelemahan dalam arus utama teknologi silver-zinc adalah bahwa saat ini hanya tersedia sebagai sistem retrofit untuk merek alat bantu dengar tertentu. Anda dapat menghubungi ZPower untuk daftar model alat bantu dengar tradisional yang bekerja dengan sistem isi ulang ZPower.
Sementara itu, ZPower memiliki beberapa keuntungan signifikan dari teknologi silver-zinc yakni:
  1. Fleksibilitas
    Baterai isi ulang ZPower yang dapat dilepas dan mudah diganti dengan baterai alat bantu dengar sekali pakai standar jika terjadi keadaan darurat. Alat bantu dengar bisa berjalan di atas sekali pakai sampai bisa diisi ulang pada malam hari.
  2. Keselamatan
    Teknologi silver-zinc tidak mudah terbakar, tidak beracun dan 100% dapat didaur ulang.
  3. Kerapatan yang lebih kecil
    Kerapatan energi yang lebih tinggi berarti baterai silver-zinc bisa masuk dalam kemasan yang lebih kecil daripada baterai isi ulang lithium-ion yang sama.
Berikut video ZPower Rechargeable Hearing Aid

Source : youtube.com

Well, pengenalan teknologi isi ulang daya ini bisa dibilang masih terbaru dan dalam pengembangan yang lebih lanjut lagi agar harga bisa ditekan hingga terjangkau bagi semua kalangan. Saat ini alat bantu dengar model di atas dan model sejenisnya masih dengan harga kisaran + 30 juta rupiah per item.
Melihat harga yang luar biasa mahal seharga dua motor baru ini masih belum bisa dijangkau pada kalangan menengah ke bawah.
Daripada pesimis, marilah kita tetap optimis dan positif agar bisa mendapatkan alat bantu dengar yang sesuai dengan keinginan anda.

Source :
hearingtracker.com

No comments:

Post a Comment